Penutupan tahun 2025 dalam lanskap budaya populer diwarnai oleh sebuah fenomena menarik di dunia musik global. Sejumlah laporan industri menunjukkan bahwa musik bernuansa spiritual kini mendapat tempat istimewa di hati pendengar arus utama. Namun, yang menarik, musik ini tidak secara eksplisit dikategorikan sebagai lagu rohani konvensional.
Laporan tahunan Luminate yang dikutip kantor berita Associated Press pada akhir Desember menegaskan adanya pergeseran selera pendengar global. Tangga lagu 50 teratas atau Top Forty yang selama ini identik dengan pop, hip-hop, dan R&B, justru dipenuhi musisi dengan pendekatan lirik dan pesan yang lebih reflektif, personal, dan spiritual.
Nama-Nama yang Mengisi Top Forty
Beberapa nama yang menonjol dalam laporan tersebut antara lain Forrest Frank, Jelly Roll, Brandon Lake, dan Alex Warren. Keempatnya berasal dari latar musik yang berbeda, namun memiliki satu benang merah: karya mereka sering dianggap “agak-agak rohani”, meski tidak selalu membawa label musik ibadah atau lagu gereja.
Secara genre, musik mereka bisa disebut gado-gado. Ada unsur pop, folk, hip-hop, hingga alternative. Namun, lirik-lirik yang diangkat lebih banyak berbicara soal pencarian makna hidup, pergulatan batin, harapan, kejatuhan, dan proses bangkit kembali. Tema-tema ini membuat musik mereka terasa dekat dengan pengalaman hidup banyak orang, tanpa harus dikaitkan langsung dengan simbol keagamaan formal.
Bukan Lagu Rohani, Tapi Sarat Nilai Spiritualitas
Fenomena ini melahirkan istilah yang kian sering digunakan oleh pengamat musik: musik spiritual. Berbeda dengan lagu rohani tradisional yang umumnya digunakan dalam konteks ibadah, musik spiritual hadir sebagai ekspresi personal. Pesan yang disampaikan tidak menggurui, tidak selalu menyebut nama Tuhan secara eksplisit, tetapi menghadirkan nuansa reflektif yang dalam.
Inilah yang membuat musik tersebut diterima oleh audiens yang lebih luas. Pendengar tidak merasa sedang “dikhotbahi”, melainkan diajak merenung. Nilai spiritual hadir sebagai pengalaman emosional, bukan sebagai doktrin.
Dominasi Platform Digital
Salah satu faktor utama yang mendorong popularitas musik spiritual ini adalah dominasi platform digital. Para pendengar yang menikmati karya Forrest Frank, Brandon Lake, hingga Jelly Roll umumnya berasal dari ekosistem streaming. Mereka mendengarkan musik melalui layanan seperti Spotify dan SoundCloud.
Algoritma platform digital memainkan peran besar dalam memperluas jangkauan musik jenis ini. Lagu-lagu bernuansa spiritual sering masuk ke playlist bertema healing, self-reflection, atau late night vibes, sehingga menjangkau pendengar yang mungkin sebelumnya tidak pernah mencari musik rohani.
Selain itu, media sosial juga berkontribusi signifikan. Potongan lirik yang menyentuh atau chorus yang emosional kerap viral di TikTok dan Instagram, mempercepat penyebaran lagu-lagu tersebut ke pasar global.
Pergeseran Selera Pendengar
Pengamat musik menilai tren ini sebagai refleksi kondisi sosial global. Setelah bertahun-tahun menghadapi ketidakpastian, krisis, dan tekanan hidup modern, banyak pendengar mencari musik yang menawarkan ketenangan dan makna. Musik spiritual menjawab kebutuhan itu tanpa harus meninggalkan kemasan modern dan relevan.
Menariknya, musik ini tidak hanya digemari oleh komunitas religius. Justru, banyak pendengarnya berasal dari kelompok yang selama ini jauh dari musik rohani. Mereka tertarik bukan karena label agama, melainkan karena kejujuran emosi dan kedalaman pesan.
Tantangan Bagi Industri Musik
Bagi industri musik, fenomena ini menjadi tantangan sekaligus peluang. Label dan platform kini harus memikirkan ulang cara mengkategorikan musik. Sekat antara musik rohani, pop, dan alternatif semakin kabur. Musik spiritual berada di wilayah abu-abu yang justru menjadi daya tariknya.
Di sisi lain, musisi juga mendapatkan ruang baru untuk berekspresi. Mereka tidak lagi harus memilih antara “musik pasar” atau “musik iman”. Keduanya bisa berjalan beriringan, selama disampaikan dengan autentik.
Bukan Tren Sesaat?
Pertanyaan besar yang muncul adalah apakah musik spiritual ini hanya tren musiman atau akan bertahan lama. Melihat konsistensinya di tangga lagu dan kuatnya dukungan dari pendengar digital, banyak pihak meyakini bahwa ini bukan sekadar fenomena sesaat.
Musik spiritual kemungkinan akan terus berkembang sebagai genre cair yang fleksibel. Ia bisa berubah bentuk, berkolaborasi dengan genre lain, dan mengikuti dinamika zaman, tanpa kehilangan esensi reflektifnya.
Kesimpulan
Akhir 2025 menandai babak baru dalam peta musik global. Musik spiritual, yang bukan lagu rohani dalam pengertian klasik, berhasil menembus arus utama dan mendominasi Top Forty. Dengan lirik yang jujur, emosi yang kuat, dan distribusi digital yang masif, genre ini menjawab kebutuhan pendengar akan musik yang lebih bermakna.
Fenomena ini menunjukkan bahwa di tengah hiruk-pikuk budaya populer, masih ada ruang besar bagi karya-karya yang mengajak manusia untuk berhenti sejenak, merenung, dan kembali pada sisi terdalam dirinya.
Baca Juga : Lirik “Salahmu Sendiri” dan Makna Cinta Tak Dihargai dalam Lagu Cantika Davinca ft. Ageng Music
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : carimobilindonesia

