Keramaian linimasa media sosial pada akhir 2025 kembali menyeret nama Slank ke pusat perdebatan publik. Single terbaru mereka, Republik Fufufafa, tidak hanya menjadi perbincangan karena musiknya, tetapi juga karena muatan kritik sosial yang tajam dan konteks politik yang menyertainya. Lagu ini seolah membuka kembali diskusi lama tentang posisi Slank sebagai band kritik, sekaligus memunculkan pertanyaan baru: apakah Slank benar-benar kembali menjadi Slank yang dulu, atau justru sedang bernegosiasi dengan realitas zaman?
Sejak awal kemunculannya, Republik Fufufafa sudah terasa provokatif. Judulnya sendiri mengundang tafsir berlapis—absurd, satir, sekaligus sinis. Aransemen rock yang keras dan lugas mengingatkan pada era ketika Slank menjadi simbol perlawanan anak muda terhadap ketidakadilan dan kemunafikan kekuasaan. Namun kali ini, kritik tersebut hadir di tengah masyarakat yang jauh lebih sensitif dan terpolarisasi secara politik dibandingkan era 1990-an.
Dari Panggung Perlawanan ke Ruang Kecurigaan
Pada masa Orde Baru hingga awal reformasi, Slank dikenal sebagai suara yang lantang dan relatif “aman” untuk diposisikan sebagai oposisi kultural. Lagu-lagu mereka dibaca sebagai kritik umum terhadap sistem, bukan sebagai afiliasi politik praktis. Namun lanskap itu telah berubah drastis. Di era media sosial, setiap pernyataan publik—termasuk karya seni—tidak lagi berdiri sendiri. Ia langsung disandingkan dengan jejak digital, sikap masa lalu, dan persepsi kolektif yang dibentuk algoritma.
Karena itu, ketika Republik Fufufafa dirilis, reaksi publik terbelah. Sebagian penggemar lama menyambutnya dengan nostalgia dan euforia. Mereka melihat lagu ini sebagai bukti bahwa Slank “ingat rumahnya”: musik kritik yang membela akal sehat. Bahkan figur publik seperti Roy Suryo menyebutnya sebagai tanda kembalinya kesadaran kritis Slank.
Namun di sisi lain, muncul skeptisisme yang tak kalah keras. Ingatan publik terhadap lagu Polisi yang Baik Hati (2023) masih segar. Lagu tersebut dianggap terlalu akomodatif terhadap institusi kekuasaan, sehingga memunculkan kesan bahwa Slank sedang “jinak”. Maka perubahan nada yang drastis dalam Republik Fufufafa terasa janggal bagi sebagian orang. Komika Gianluigi bahkan secara terbuka mempertanyakan ketulusan kritik tersebut, menyebutnya seperti “titipan”.
Musiknya Kuat, Reputasinya yang Dipersoalkan
Menariknya, hampir tidak ada perdebatan serius soal kualitas musikal Republik Fufufafa. Secara teknis, lagu ini solid: aransemen rapi, energi terjaga, dan pesan tersampaikan dengan jelas. Kritik publik justru berpusat pada faktor non-musikal, yakni reputasi politik para personel Slank.
Di sinilah dilema musisi di era digital menjadi nyata. Karya seni tidak lagi dinilai semata dari isinya, tetapi juga dari siapa yang menyampaikannya. Konsistensi sikap menjadi parameter penting, bahkan lebih penting daripada keberanian mengkritik. Ketika konsistensi itu diragukan, pesan sekuat apa pun bisa kehilangan daya gigitnya.
Seni, Politik, dan Hilangnya Zona Netral
Republik Fufufafa juga memperlihatkan bahwa zona netral antara seni dan politik kian menyempit. Begitu seorang musisi berbicara tentang “republik”, “kuasa”, atau “ketimpangan”, ia otomatis masuk ke arena politik. Di arena ini, publik tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga juri yang mengaudit motif dan latar belakang.
Dulu, musisi bisa bersembunyi di balik metafora dan simbol. Kini, metafora itu segera ditarik ke konteks politik aktual. Lirik yang bersifat umum pun cepat diasosiasikan dengan figur, partai, atau kebijakan tertentu. Akibatnya, seni kehilangan ruang ambigu yang dulu justru menjadi kekuatannya.
Namun, justru di sinilah letak relevansi Republik Fufufafa. Lagu ini tidak hanya mengkritik kekuasaan, tetapi juga memotret kondisi masyarakat yang penuh kecurigaan. Reaksi publik terhadap lagu ini mencerminkan kelelahan kolektif: kita ingin suara kritis, tetapi sekaligus menuntut pembawanya bersih dan konsisten tanpa cela.
Slank, Kita, dan Cermin Sosial
Video klip Republik Fufufafa yang menampilkan kostum badut menjadi simbol yang kuat. Badut tidak hanya merepresentasikan elite yang absurd, tetapi juga masyarakat yang terjebak dalam pertunjukan itu sendiri. Kita menertawakan kekacauan, tetapi sekaligus menjadi bagian darinya.
Dalam konteks ini, Slank tidak berdiri di luar sistem sebagai pengamat netral. Mereka adalah bagian dari ekosistem sosial yang sama—dengan segala kontradiksi dan komprominya. Mungkin justru karena itulah lagu ini terasa mengganggu: ia memaksa kita untuk melihat bahwa tidak ada posisi yang sepenuhnya bersih.
Penutup: Kritik yang Tetap Memantik Dialog
Apakah Republik Fufufafa adalah tanda kembalinya Slank ke akar kritik sosialnya? Ataukah sekadar strategi bertahan di industri musik yang semakin kompetitif dan politis? Jawaban pasti mungkin tidak akan pernah ada.
Namun satu hal yang tak terbantahkan: lagu ini berhasil memicu dialog. Ia membuat publik kembali berbicara tentang musik sebagai alat kritik, tentang konsistensi moral, dan tentang posisi seniman di tengah pusaran politik. Di era ketika perhatian publik mudah terpecah, kemampuan sebuah karya untuk memancing perdebatan panjang adalah pencapaian tersendiri.
Mungkin Republik Fufufafa bukan jawaban atas semua kegelisahan, tetapi ia berhasil menghidupkan kembali pertanyaan penting: apakah kita masih memberi ruang bagi suara kritis, meski suara itu datang dari figur yang tidak sempurna? Dan jika jawabannya ya, maka perdebatan seputar Slank justru menegaskan bahwa musik—setidaknya untuk saat ini—masih punya daya untuk mengguncang kesadaran kita bersama.
Baca Juga : Sugeng Kondur Romo Mudji Kinasih
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : radarbandung

