Musik kerap hadir sebagai hiburan, pelarian, atau ruang ekspresi personal. Namun bagi Anthesianz, musik juga menjadi medium pernyataan sikap. Lewat single terbarunya berjudul “Fala”, yang berarti “rumahku”, musisi asal Bali ini mengajak pendengarnya menengok kembali satu isu yang sering terdengar, namun kerap terasa jauh: degradasi hutan hijau tropis Indonesia.
Single “Fala” diperkenalkan ke publik pada akhir Desember 2025 melalui kanal Spotify Podcasts dan YouTube, bukan sekadar sebagai rilisan musik, tetapi sebagai pintu masuk diskusi lingkungan. Anthesianz memposisikan karyanya bukan hanya untuk didengar, melainkan untuk direnungkan. Lagu ini lahir dari kegelisahan akan kondisi hutan Indonesia yang perlahan menyusut, padahal hutan tersebut adalah “rumah” bagi manusia, flora, fauna, dan keseimbangan iklim global.
Indonesia dan Rumah Bernama Hutan
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan hutan tropis tertua dan terkaya di dunia. Hutan-hutan ini terbentang luas di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua, dengan total luas mencapai lebih dari 95,5 juta hektare, atau lebih dari setengah daratan Indonesia. Kekayaan ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu penyangga ekosistem global, terutama dalam hal penyimpanan karbon dan keanekaragaman hayati.
Namun, fakta-fakta yang disampaikan Anthesianz dalam narasi pendamping “Fala” menunjukkan sisi lain yang mengkhawatirkan. Sepanjang tahun 2024 saja, Indonesia kehilangan sekitar 175.000 hektare hutan secara bersih, meski telah memperhitungkan upaya reboisasi. Angka ini menandakan bahwa laju kehilangan hutan masih jauh dari kata terkendali.
Menariknya, sekitar 92,8 persen deforestasi terjadi di hutan sekunder. Hutan jenis ini sering kali dianggap kurang penting dibanding hutan primer, padahal perannya tetap krusial dalam menjaga keanekaragaman hayati, siklus air, dan penyimpanan karbon. Dalam banyak kasus, hutan sekunder justru menjadi benteng terakhir sebelum lanskap berubah total menjadi kawasan industri atau permukiman.
Akar Masalah Degradasi Hutan
Anthesianz tidak berhenti pada data, tetapi juga menyinggung penyebab utama degradasi hutan. Ekspansi pertanian skala besar, khususnya perkebunan kelapa sawit, menjadi salah satu faktor dominan. Selain itu, kebakaran hutan—yang sering berkaitan dengan pembukaan lahan dan pengeringan gambut—masih menjadi masalah tahunan. Aktivitas pertambangan, pembangunan infrastruktur, dan praktik penebangan hutan yang tidak berkelanjutan turut memperparah kondisi.
Dampak dari deforestasi ini tidak hanya dirasakan oleh alam, tetapi juga oleh manusia. Pelepasan karbon dari pepohonan dan tanah ke atmosfer mempercepat perubahan iklim. Dalam beberapa periode, perubahan tata guna lahan bahkan menyumbang hingga 40 persen emisi gas rumah kaca Indonesia. Dampak lanjutan seperti pencemaran sungai, degradasi tanah, perubahan pola curah hujan, serta musim kebakaran yang semakin panjang dan intens menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan.
Ketika Musik Bertemu Realitas Sosial
Di sinilah “Fala” menemukan relevansinya. Anthesianz tidak menyampaikan pesan dengan nada menggurui. Ia memilih pendekatan emosional dan reflektif. Kata “rumahku” dalam judul lagu menjadi metafora sederhana namun kuat: hutan bukan sekadar objek ekonomi, melainkan ruang hidup. Ketika hutan rusak, yang hilang bukan hanya pepohonan, tetapi rasa aman, identitas, dan masa depan.
Bagi masyarakat adat dan warga desa yang hidup paling dekat dengan hutan, degradasi ini berarti kehilangan lebih dari sekadar sumber daya alam. Hutan adalah budaya, sejarah, dan cara hidup. Pesan inilah yang coba dihadirkan Anthesianz melalui musik—sebuah upaya untuk menjembatani data ilmiah dengan empati manusiawi.
Upaya Nyata dan Harapan yang Masih Ada
Meski gambaran yang disampaikan terkesan muram, Anthesianz juga menekankan bahwa perjuangan belum berakhir. Dalam video dan podcast pendamping “Fala”, disampaikan berbagai langkah nyata yang sedang dilakukan. Pemerintah telah menjatuhkan denda dan menyita jutaan hektare perkebunan serta operasi tambang ilegal di kawasan hutan. Program rehabilitasi hutan terus berjalan, memulihkan puluhan ribu hektare setiap tahun.
Di luar kebijakan negara, peran komunitas lokal, aktivis, dan ilmuwan menjadi kunci. Gerakan penanaman kembali, riset ekologi, hingga advokasi hak masyarakat adat menunjukkan bahwa ada upaya kolektif untuk mempertahankan hutan. Anthesianz menempatkan karyanya sebagai bagian kecil dari ekosistem perjuangan ini—bukan solusi tunggal, tetapi suara tambahan yang memperluas kesadaran.
Musik sebagai Medium Kesadaran
Apa yang dilakukan Anthesianz lewat “Fala” mencerminkan pergeseran peran musisi di era modern. Musik tidak lagi berdiri terpisah dari isu sosial dan lingkungan. Ia menjadi medium dialog, bahkan alat edukasi. Dengan memanfaatkan platform digital seperti Spotify dan YouTube, pesan lingkungan dapat menjangkau audiens yang lebih luas, melintasi batas geografis dan latar belakang.
Dalam konteks ini, “Fala” bukan hanya lagu, melainkan pengingat. Ia mengajak pendengar untuk berhenti sejenak dan bertanya: jika hutan adalah rumah, bagaimana kita memperlakukannya? Pertanyaan ini sederhana, tetapi jawabannya menuntut perubahan cara pandang dan tindakan nyata.
Penutup: Ketika Hutan Terdiam
Anthesianz menutup pesannya dengan pernyataan yang menggugah: ketika hutan terdiam, yang hilang bukan hanya pepohonan, melainkan masa depan bersama. Kalimat ini merangkum esensi “Fala”. Lagu ini tidak menawarkan jawaban instan, tetapi membuka ruang kesadaran bahwa krisis lingkungan adalah persoalan kolektif.
Di tengah arus musik yang serba cepat dan konsumtif, “Fala” hadir sebagai ajakan untuk mendengar—bukan hanya melodi, tetapi juga suara alam yang kian melemah. Jika musik mampu membuat kita peduli, maka barangkali dari situlah perubahan kecil bisa dimulai.
Baca Juga : JomloFest 2025 Tegaskan Dangdut Koplo Raja Hiburan Lokal
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : radarjawa

