Idgitaf Membuka Tahun dengan Cerita yang Tidak Biasa
Membuka awal tahun ini, penyanyi sekaligus penulis lagu Idgitaf kembali menyapa pendengarnya lewat single terbaru berjudul Rutinitas. Lagu ini menjadi single kedua setelah Idgitaf merilis Sedia Aku Sebelum Hujan pada awal Oktober 2025, yang mendapat sambutan hangat dari penikmat musik Indonesia.
Berbeda dari banyak karya yang hadir sebagai selebrasi awal tahun, Rutinitas justru menawarkan sudut pandang yang lebih sunyi dan jujur. Lagu ini tidak berbicara tentang resolusi penuh optimisme, melainkan tentang kegelisahan batin, overthinking, dan ketakutan akan perubahan yang tak terhindarkan.
Lagu tentang Overthinking dan Ketakutan Kehilangan
Idgitaf—yang memiliki nama asli Gita—menjelaskan bahwa Rutinitas lahir dari fase personal yang penuh pertanyaan. Ia menulis lagu ini saat berada dalam kondisi mental yang dipenuhi rasa khawatir, meskipun dikelilingi oleh orang-orang baik, termasuk pasangannya sendiri.
“Aku menulis lagu ini saat berada dalam fase overthinking ketika menghadapi begitu banyak orang yang baik di sekitarku, khususnya pasanganku. Ini justru bikin aku berpikir apakah aku bisa berlama-lama dengan mereka,” ungkap Gita.
Keresahan tersebut kemudian berkembang menjadi pertanyaan-pertanyaan yang sangat manusiawi: tentang kenangan, tempat-tempat yang pernah bermakna, dan kemungkinan kehilangan semuanya.
Memori, Tempat, dan Rutinitas yang Berubah
Dalam penuturannya, Idgitaf menggambarkan bagaimana memori bisa menjadi pedang bermata dua. Tempat-tempat yang dulunya penuh makna bisa berubah menjadi sumber luka ketika hubungan berakhir.
“Ada banyak sekali tempat memorable dan kenangan bersama. Lalu aku bertanya-tanya, kalau suatu hari kami berpisah, apakah aku bisa kembali ke tempat-tempat itu dan merasakan hal yang sama? Atau justru aku menghindari hal itu?” ujarnya.
Dari sinilah kata “rutinitas” menemukan maknanya. Bukan sekadar aktivitas harian, tetapi pola hidup emosional yang terpaksa berubah karena kehilangan.
Pembuka Lirik yang Langsung Menohok
Sejak baris pertama, Rutinitas langsung menunjukkan kekuatannya sebagai lagu reflektif. Lirik pembuka:
“Jika kita berpisah, rutinitasku apa?
Cara hidupku yang dulu waktu itu apa?”
menjadi pintu masuk ke kegelisahan yang akrab bagi banyak pendengar. Idgitaf tidak berusaha merapikan perasaan tersebut, justru membiarkannya hadir apa adanya—rapuh, jujur, dan tanpa solusi instan.
Pendekatan inilah yang selama ini membuat karya-karya Idgitaf terasa dekat dengan pendengarnya.
Nuansa Country yang Lembut dan Sendu
Secara musikal, Rutinitas menghadirkan warna yang cukup berbeda. Lagu ini dibuka dengan permainan pedal steel guitar dari musisi tamu Amrus Ramadhan, yang memberi sentuhan country lembut dan sendu.
Aransemen yang minimalis dan halus mengiringi vokal Idgitaf yang tenang namun penuh emosi. Nuansa sendu tersebut perlahan berkembang hingga mencapai bagian chorus yang menyimpan secercah harapan.
Chorus sebagai Titik Terang di Tengah Keresahan
Meski dipenuhi rasa pesimis dan cemas, Rutinitas tidak sepenuhnya tenggelam dalam kesedihan. Di bagian chorus, Idgitaf menyisipkan harapan yang tipis namun tulus:
“Nanti terbiasa
Deras hujan pun reda
Begitu pun aku
Kan terbit masaku dengan cinta baru
Rutinitas baru.”
Bagian ini menjadi semacam pengakuan bahwa meski perubahan terasa menakutkan, manusia pada akhirnya akan belajar beradaptasi—meski perlahan dan tidak selalu mudah.
Kontras dengan Single Sebelumnya
Sebagai kelanjutan dari Sedia Aku Sebelum Hujan, Rutinitas menunjukkan sisi lain dari perjalanan emosional Idgitaf. Jika Sedia Aku Sebelum Hujan berbicara tentang kesanggupan, keteguhan, dan kesiapan untuk bertahan, maka Rutinitas justru berkutat pada keraguan dan kecemasan akan masa depan.
Perbedaan ini memperlihatkan kedewasaan Idgitaf dalam menulis lagu. Ia tidak terjebak pada satu emosi, melainkan berani mengeksplorasi spektrum perasaan yang lebih luas dan jujur.
Konsistensi Lirik yang Menyentuh
Nama Idgitaf sendiri telah dikenal luas berkat lagu-lagu seperti Takut, Semoga Sembuh, dan Satu-Satu. Kekuatan utamanya selalu terletak pada lirik yang sederhana namun mengena.
Album penuh perdananya, Mengudara, yang dirilis pada 2023, menjadi bukti konsistensi tersebut. Album ini mempertegas posisi Idgitaf sebagai salah satu penulis lagu paling personal di generasinya.
Pengakuan di Dunia Perfilman
Tak hanya di industri musik, Idgitaf juga mencatatkan prestasi di dunia perfilman. Ia menjadi nomine Festival Film Indonesia 2025 dalam kategori Pencipta Lagu Tema Terbaik lewat lagu Berakhir di Aku.
Pencapaian ini menegaskan bahwa kemampuan Idgitaf merangkai emosi lewat lagu tidak hanya relevan di industri musik, tetapi juga kuat sebagai elemen naratif dalam film.
Rutinitas sebagai Cermin Pendengar
Dengan Rutinitas, Idgitaf kembali membuktikan kemampuannya menjadikan lagu sebagai ruang refleksi bersama. Lagu ini bukan sekadar curahan hati pribadi, melainkan cermin bagi banyak orang yang sedang berada di fase kehilangan, perubahan, dan ketidakpastian.
Alih-alih menawarkan jawaban, Rutinitas justru memberi ruang untuk bertanya—dan mungkin, untuk berdamai.
Kesimpulan
Single Rutinitas menandai langkah penting dalam perjalanan musikal Idgitaf. Dengan lirik yang jujur, aransemen yang lembut, dan tema yang dekat dengan kehidupan banyak orang, lagu ini memperkuat identitas Idgitaf sebagai penulis lagu yang berani mengeksplorasi sisi rapuh manusia.
Di tengah euforia awal tahun yang sering dipenuhi optimisme berlebihan, Rutinitas hadir sebagai pengingat bahwa tidak apa-apa memulai tahun dengan kebingungan. Karena pada akhirnya, seperti yang dinyanyikan Idgitaf, manusia akan menemukan rutinitas baru—dan mungkin, cinta yang baru pula.
Baca Juga : Bukan Sedia Payung tapi Sedia Aku
Cek Juga Artikel Dari Platform : jalanjalan-indonesia

