Fadhilah Intan Kembali dengan Soundtrack Penuh Emosi
Penyanyi Fadhilah Intan kembali menghadirkan karya terbarunya lewat sebuah single berjudul Pura-Pura Bahagia. Lagu ini dipercaya menjadi soundtrack untuk film Air Mata di Ujung Sajadah 2, produksi lanjutan dari rumah produksi yang sebelumnya sukses melambungkan namanya lewat lagu Dawai.
Kehadiran Pura-Pura Bahagia menjadi penanda penting dalam perjalanan karier Fadhilah Intan. Lagu ini tidak hanya melanjutkan kolaborasi yang telah terbukti berhasil, tetapi juga memperlihatkan kedewasaan emosional Fadhilah dalam menyampaikan cerita melalui musik.
Dawai, Lagu yang Mengubah Arah Karier
Single Dawai menjadi titik balik bagi Fadhilah Intan. Lagu tersebut mendapat sambutan luas dan membawanya tampil di berbagai kota di Indonesia, bahkan hingga Malaysia. Kesuksesan Dawai memperkuat posisi Fadhilah sebagai penyanyi dengan karakter vokal lembut namun kuat, yang mampu menyampaikan emosi mendalam tanpa harus berlebihan.
Keberhasilan tersebut membuka jalan bagi Fadhilah untuk kembali dipercaya mengisi soundtrack film kedua dari rumah produksi yang sama. Ketika kesempatan itu datang, Fadhilah mengaku tidak ragu sedikit pun.
“Saya tidak mungkin menolak kesempatan kembali mengisi soundtrack film kedua ini, terutama karena lagu ini masih punya kesinambungan dengan ‘Dawai’,” ujar Fadhilah.
Kelanjutan Cerita dari Dawai
Berbeda dengan soundtrack yang berdiri sendiri, Pura-Pura Bahagia dirancang sebagai kelanjutan emosional dari Dawai. Lagu ini ditulis sepenuhnya dengan inspirasi dari cerita film Air Mata di Ujung Sajadah 2 dan dibawakan dari sudut pandang karakter Mama Yumna.
Karakter Mama Yumna diperankan oleh Citra Kirana, yang digambarkan sebagai seorang ibu dengan beban hidup yang berat. Meski dihadapkan pada berbagai masalah dan luka batin, Mama Yumna tetap berusaha tampil kuat demi anak yang sangat ia cintai.
Tema inilah yang menjadi inti dari Pura-Pura Bahagia—tentang ketegaran yang dipaksakan, senyum yang disimpan, dan perasaan yang dipendam demi orang-orang terkasih.
Emosi Ibu dan Ketegaran yang Sunyi
Melalui lirik dan aransemen yang tenang, Pura-Pura Bahagia menggambarkan kondisi batin seorang ibu yang harus menyembunyikan kesedihannya. Lagu ini tidak berteriak tentang penderitaan, melainkan berbicara pelan namun menghunjam, mencerminkan realitas banyak perempuan dan ibu yang memilih diam demi menjaga keluarganya tetap utuh.
Fadhilah Intan menerjemahkan emosi tersebut lewat vokal yang tertahan, penuh rasa, dan minim dramatik berlebihan. Pendekatan ini membuat lagu terasa lebih jujur dan dekat dengan pendengar.
Proses Rekaman yang Terasa Personal
Meski bukan penulis lagu, Fadhilah mengungkapkan bahwa proses membawakan Pura-Pura Bahagia terasa sangat personal dan natural. Lagu ini datang pada saat dirinya sendiri sedang berada dalam kondisi yang tidak sepenuhnya baik-baik saja.
Kedekatan emosional tersebut membuat Fadhilah tidak perlu berusaha keras untuk “memainkan” emosi. Setiap bait terasa mengalir, seolah menjadi medium untuk menyalurkan perasaan yang selama ini terpendam.
Hal ini menjadikan interpretasi vokalnya terasa tulus dan selaras dengan pesan film Air Mata di Ujung Sajadah 2.
Soundtrack sebagai Perpanjangan Cerita Film
Sebagai soundtrack, Pura-Pura Bahagia tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap film, tetapi menjadi bagian penting dari narasi. Lagu ini memperdalam karakter Mama Yumna, memberi ruang bagi penonton untuk memahami konflik batin yang tidak selalu terucap dalam dialog.
Pendekatan ini membuat lagu dan film saling menguatkan. Penonton yang telah menonton film akan merasakan kembali emosi ceritanya saat mendengarkan lagu, sementara pendengar lagu yang belum menonton film akan terdorong untuk mencari kisah di baliknya.
Harapan untuk Menyentuh Banyak Orang
Fadhilah berharap Pura-Pura Bahagia dapat memiliki dampak emosional yang sama kuatnya seperti Dawai. Ia ingin lagu ini menjadi teman bagi mereka yang sedang berjuang, khususnya mereka yang harus terlihat kuat meski hatinya lelah.
“Saya berharap lagu ini bisa relate dan menyentuh banyak orang, seperti ‘Dawai’,” ungkap Fadhilah.
Tema tentang berpura-pura bahagia memang sangat dekat dengan realitas banyak orang, menjadikan lagu ini relevan lintas usia dan latar belakang.
Persiapan Album Penuh di 2026
Di luar proyek soundtrack, Fadhilah Intan juga tengah bersiap untuk melangkah lebih jauh dalam karier musiknya. Ia mengungkapkan sedang menyiapkan album penuh yang direncanakan rilis pada 2026.
Beberapa materi album tersebut telah mulai digarap bersama Hendro Djasmoro, yang selama ini berperan sebagai produser sekaligus sosok penting dalam perjalanan musik Fadhilah sejak awal.
Kolaborasi ini diharapkan dapat menghadirkan warna musik yang lebih matang, sekaligus memperluas eksplorasi emosional Fadhilah sebagai seorang penyanyi.
Langkah Konsisten di Jalur Emosional
Dengan Pura-Pura Bahagia, Fadhilah Intan menunjukkan konsistensinya memilih jalur musik yang emosional dan naratif. Ia tidak sekadar mengejar popularitas, tetapi membangun identitas sebagai penyanyi yang mampu menjadi medium cerita dan perasaan banyak orang.
Keberhasilannya menghidupkan karakter Mama Yumna lewat lagu ini memperlihatkan kemampuan interpretasi vokal yang semakin matang.
Kesimpulan
Single Pura-Pura Bahagia menjadi langkah penting dalam perjalanan karier Fadhilah Intan. Sebagai soundtrack Air Mata di Ujung Sajadah 2, lagu ini melanjutkan benang merah emosional dari Dawai, sekaligus menghadirkan kedalaman baru dalam penyampaian cerita.
Dengan vokal yang jujur, tema yang relevan, dan keterikatan kuat dengan narasi film, Pura-Pura Bahagia berpotensi kembali menjadi lagu yang menemani banyak orang dalam fase hidup yang sunyi namun penuh ketegaran.
Baca juga : Tiara Andini Gandeng STB di MV Cinta Seperti Aku
Cek Juga Artikel Dari Platform : olahraga

