Saat Dunia Terasa Sepi, Gitar Menjadi Teman Bercerita
Ada masa dalam hidup ketika dunia terasa begitu ramai, namun justru membuat hati semakin sepi. Suara kendaraan berlalu-lalang, notifikasi terus berdenting, orang-orang berbicara tanpa henti, tetapi tidak satu pun benar-benar menyentuh ruang paling dalam di dada.
Di tengah keramaian seperti itu, kesepian hadir dengan cara yang halus. Ia tidak datang sebagai tangis atau amarah, melainkan sebagai rasa kosong yang sulit dijelaskan. Ada perasaan ingin didengar, namun tidak tahu harus bercerita kepada siapa.
Pada saat-saat seperti itulah, aku mulai memahami bahwa tidak semua cerita harus diucapkan lewat kata. Tidak semua rasa mampu diterjemahkan menjadi kalimat. Ada emosi yang terlalu rumit untuk dijelaskan, terlalu lembut untuk dibagikan sembarangan.
Dan di sanalah gitar hadir.
Gitar Sebagai Ruang Aman
Gitar bukan sekadar alat musik bagiku. Ia bukan hanya benda kayu dengan senar-senar yang bisa menghasilkan nada. Gitar adalah ruang aman, tempat aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa topeng apa pun.
Di hadapannya, aku tidak perlu terlihat kuat. Tidak harus tampak baik-baik saja. Aku boleh lelah, boleh bingung, bahkan boleh hancur dalam diam.
Saat jari menyentuh senarnya, ada rasa seperti membuka pintu kecil menuju dunia batin yang selama ini tertutup rapat. Setiap petikan terasa seperti mengeluarkan sesuatu yang lama terpendam.
Tidak ada yang menilai apakah nadanya indah atau sumbang. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada kritik. Hanya aku dan suara yang lahir dari perasaan paling jujur.
Ketika Kata-Kata Tidak Lagi Cukup
Ada hari-hari ketika kata-kata terasa gagal menjalankan tugasnya. Terlalu banyak yang ingin disampaikan, namun semakin dipikirkan, semakin sulit dirangkai.
Aku pernah mencoba menjelaskan rasa lelah kepada orang lain, namun yang keluar hanya kalimat singkat yang terdengar biasa. Padahal di dalamnya ada ribuan perasaan yang saling bertabrakan.
Di momen itulah gitar seperti memahami lebih dulu.
Tanpa perlu diminta, jari-jariku bergerak sendiri. Nada demi nada mengalir tanpa rencana. Tidak ada lagu tertentu, tidak ada struktur yang sempurna. Hanya suara yang mengikuti denyut perasaan.
Aneh rasanya, bagaimana sebuah alat bisa “mengerti” tanpa benar-benar memahami. Namun begitulah musik bekerja—ia tidak bertanya, ia hanya menemani.
Nada yang Tidak Harus Indah
Tidak semua petikan gitar terdengar merdu. Ada saat di mana nadanya sumbang, ritmenya kacau, bahkan terasa hampa. Namun justru di situlah kejujurannya.
Hidup pun tidak selalu rapi.
Ada hari yang berjalan baik, ada hari yang terasa berat sejak bangun tidur. Ada rencana yang gagal, ada harapan yang perlahan memudar. Semua itu tercermin dalam cara senar bergetar.
Gitar mengajarkanku bahwa tidak apa-apa jika hari ini tidak indah. Tidak semua momen harus produktif. Tidak semua perasaan harus segera diperbaiki.
Kadang, cukup dirasakan.
Musik sebagai Tempat Beristirahat
Dalam kesunyian malam, gitar sering menjadi teman paling setia. Saat dunia mulai diam dan lampu-lampu perlahan redup, suara senar yang dipetik pelan terasa seperti napas panjang setelah hari yang melelahkan.
Di saat itu, aku tidak sedang mencari jawaban hidup. Aku hanya ingin berhenti sejenak.
Musik menjadi tempat beristirahat, bukan pelarian. Ia tidak menghapus masalah, tetapi membuatnya terasa lebih ringan untuk dibawa.
Ada ketenangan yang tidak bisa dijelaskan ketika satu nada berakhir dan hening menyusul setelahnya. Seolah berkata, “Kamu sudah berusaha hari ini. Tidak apa-apa untuk berhenti sebentar.”
Gitar dan Kesepian yang Berdamai
Kesepian sering dianggap musuh. Sesuatu yang harus dihindari atau dilawan. Namun lewat gitar, aku belajar melihatnya dengan cara berbeda.
Kesepian tidak selalu buruk.
Ia adalah ruang di mana seseorang bisa mengenal dirinya sendiri lebih dalam. Ia memberi jarak dari kebisingan dunia agar hati bisa berbicara.
Dengan gitar, kesepian tidak lagi terasa menakutkan. Ia berubah menjadi teman duduk diam, menemani tanpa banyak tuntutan.
Tidak perlu selalu ramai untuk merasa hidup.
Tentang Rindu dan Harapan
Banyak petikan gitar lahir dari rindu. Rindu pada seseorang, pada masa lalu, pada versi diri yang pernah sederhana.
Nada-nada itu tidak selalu sedih, tapi selalu jujur. Ada harapan kecil yang terselip di antaranya—harapan bahwa esok mungkin sedikit lebih baik, atau setidaknya tidak lebih berat dari hari ini.
Gitar tidak menjanjikan apa pun. Namun ia mengingatkanku bahwa selama masih bisa merasa, berarti aku masih hidup.
Dan selama masih bisa memetik senar, berarti masih ada cerita yang belum selesai.
Belajar Mendengarkan Diri Sendiri
Dari gitar, aku belajar satu hal penting: mendengarkan diri sendiri.
Sering kali kita terlalu sibuk memenuhi ekspektasi orang lain sampai lupa menanyakan kabar hati sendiri. Musik membawaku kembali ke titik itu—tempat aku berhenti sejenak dan bertanya, “Apa yang sebenarnya kamu rasakan?”
Jawabannya tidak selalu jelas. Tapi tidak apa-apa.
Karena tidak semua perasaan butuh solusi. Beberapa hanya ingin diakui keberadaannya.
Penutup: Ketika Dunia Terasa Sepi
Saat dunia terasa sepi, gitar menjadi tempatku bercerita. Tanpa panggung, tanpa penonton, tanpa perlu sempurna.
Ia mengajarkanku bahwa diam pun bisa bermakna. Bahwa nada sederhana bisa menyimpan cerita panjang. Dan bahwa menjadi rapuh bukanlah kelemahan, melainkan bagian dari menjadi manusia.
Di antara senar yang bergetar dan hening yang tersisa, aku menemukan satu hal yang paling berharga: keberanian untuk jujur pada diri sendiri.
Baca Juga : Bandcamp Resmi Larang Musik AI, Dukung Musisi Independen
Cek Juga Artikel Dari Platform : sultaniyya

