Musik Pop sebagai Ruang Sastra Modern
Musik populer sering kali dipandang hanya sebagai hiburan, padahal di dalamnya tersimpan kekuatan sastra yang tidak kalah dalam dari puisi atau prosa. Lirik lagu dapat menjadi medium ekspresi emosi, gagasan, dan refleksi sosial yang kompleks. Dalam konteks ini, karya-karya Billie Eilish menempati posisi menarik karena menghadirkan lirik yang sederhana secara bahasa, namun kaya makna secara tematik.
Salah satu lagu yang mencerminkan hal tersebut adalah Wildflower, yang terdapat dalam album Happier Than Ever. Lagu ini bukan hanya sekadar komposisi musikal yang emosional, tetapi juga dapat dibaca sebagai karya sastra mini yang memadukan tema cinta, alam, kebebasan, dan identitas diri. Jika ditelaah melalui pendekatan sastra Inggris, Wildflower menunjukkan kesinambungan dengan tradisi sastra yang telah lama menggunakan alam sebagai metafora kondisi manusia.
Billie Eilish dan Karakter Lirik yang Introspektif
Sebagai salah satu penyanyi muda paling berpengaruh di dunia, Billie Eilish dikenal karena keberaniannya mengekspresikan sisi rapuh, gelap, dan jujur dari pengalaman manusia. Lirik-liriknya sering kali bersifat introspektif, menolak idealisasi berlebihan, dan justru menampilkan konflik batin yang nyata.
Dalam Wildflower, Billie tidak menempatkan dirinya sebagai figur romantis yang sempurna. Sebaliknya, ia menghadirkan sosok yang sadar akan stigma sosial, luka emosional, dan kontradiksi dalam dirinya sendiri. Pendekatan ini membuat lagunya terasa dekat dengan pengalaman pendengar modern, terutama generasi muda yang bergulat dengan identitas dan ekspektasi sosial.
Simbol “Wildflower” sebagai Metafora Alam
Metafora utama dalam lagu ini adalah “wildflower” atau bunga liar. Secara harfiah, bunga liar adalah tanaman yang tumbuh tanpa perawatan khusus, tidak ditata, dan tidak dikendalikan oleh manusia. Dalam konteks lirik, simbol ini merepresentasikan kebebasan, ketahanan, dan keberanian untuk hidup di luar norma yang mengikat.
Dalam tradisi sastra Inggris, alam sering dijadikan simbol kekuatan batin manusia. Penyair Romantisis seperti William Wordsworth menggunakan bunga dan lanskap alam sebagai representasi emosi dan spiritualitas manusia. Dalam puisinya I Wandered Lonely as a Cloud, bunga daffodil menjadi sumber kebahagiaan dan pencerahan batin.
Billie Eilish mengadopsi tradisi tersebut, namun dengan pendekatan modern. Jika Wordsworth melihat bunga sebagai keindahan yang menenangkan, Billie justru menampilkan bunga liar sebagai simbol diri yang tidak dapat dikontrol, tumbuh dalam kondisi keras, dan tetap bertahan.
Tema Cinta yang Bebas namun Kompleks
Tema cinta dalam Wildflower tidak ditampilkan sebagai romansa ideal. Lirik seperti “You can have my heart, but you can’t have my mind” menunjukkan cinta yang bersyarat dan sadar akan batas. Cinta digambarkan sebagai keterhubungan emosional tanpa penyerahan kendali diri sepenuhnya.
Pendekatan ini mengingatkan pada tradisi sastra Inggris klasik, khususnya dalam soneta-soneta William Shakespeare. Dalam Sonnet 18, cinta dibandingkan dengan keindahan alam yang abadi, namun tetap berada dalam kerangka kepemilikan emosional. Billie Eilish membalikkan gagasan tersebut dengan menegaskan otonomi diri dalam relasi cinta.
Dengan demikian, Wildflower menghadirkan cinta sebagai kekuatan alam yang tumbuh secara alami, tetapi tidak bisa dimiliki sepenuhnya. Seperti alam itu sendiri, cinta hanya bisa dirasakan dan dihargai, bukan dikendalikan.
Alam dan Pertumbuhan Emosional
Selain cinta, lagu ini juga berbicara tentang pertumbuhan emosional. Metafora akar, bunga, dan pertumbuhan diam-diam menggambarkan proses pendewasaan batin yang tidak selalu terlihat dari luar. Pertumbuhan ini tidak selalu indah, tetapi tetap esensial.
Dalam sastra Inggris, alam sering digunakan untuk melambangkan perjalanan batin manusia. Penyair seperti Emily Dickinson kerap menggambarkan alam sebagai ruang kontemplasi eksistensial. Wildflower mengikuti jejak tersebut dengan menghadirkan alam sebagai cermin kondisi psikologis tokohnya.
Kebebasan dan Identitas dalam Perspektif Sastra Feminis
Pengulangan kalimat “I’m a wildflower” dalam lagu ini berfungsi sebagai afirmasi identitas. Bukan sekadar pengulangan musikal, tetapi pernyataan eksistensial tentang penerimaan diri. Di sini, kebebasan menjadi inti pesan lagu.
Dalam perspektif sastra feminis, gagasan ini sejalan dengan pemikiran Virginia Woolf, yang menekankan pentingnya ruang kebebasan bagi perempuan untuk menjadi diri sendiri. Bunga liar dalam Wildflower dapat dibaca sebagai simbol perempuan yang menolak dikurung oleh norma sosial, ekspektasi, atau stereotip.
Billie Eilish, sebagai artis perempuan muda, menyampaikan pesan ini dengan bahasa yang sederhana namun kuat. Ia tidak berkhotbah, tetapi mengajak pendengar untuk merenung dan menerima kompleksitas diri.
Lagu Pop sebagai Sastra yang Hidup
Melalui Wildflower, Billie Eilish membuktikan bahwa lagu pop dapat dibaca sebagai karya sastra kontemporer. Dengan memanfaatkan metafora alam, struktur pengulangan, dan konflik emosional, lagu ini menghadirkan lapisan makna yang kaya.
Dalam konteks sastra Inggris, Wildflower dapat dipahami sebagai puisi modern yang hidup dalam medium musik. Lagu ini menjembatani tradisi sastra klasik dengan pengalaman emosional generasi masa kini, menjadikannya relevan secara akademik sekaligus personal.
Penutup: Wildflower sebagai Puisi Modern
Pada akhirnya, Wildflower bukan hanya lagu tentang cinta, tetapi tentang kebebasan menjadi diri sendiri. Melalui simbol alam, Billie Eilish mengajak pendengar memahami bahwa cinta, seperti bunga liar, tumbuh tanpa paksaan dan tidak tunduk pada aturan buatan manusia.
Dengan pendekatan sastra Inggris, lagu ini dapat dibaca sebagai refleksi modern atas hubungan manusia dengan alam, cinta, dan identitas. Wildflower menjadi bukti bahwa musik populer mampu menjadi ruang sastra yang hangat, jujur, dan relevan di tengah kehidupan kontemporer.
Baca Juga : Menggali Kreativitas dalam Seni Musik Indonesia
Cek Juga Artikel Dari Platform : otomotifmotorindo

