Fenomena ujaran kebencian di media sosial kembali membuka luka lama soal identitas kultural di Indonesia. Salah satu frasa yang sempat ramai diperbincangkan, “Jawa adalah hama”, memantik reaksi keras dari berbagai kalangan. Ungkapan ini tidak lagi dipahami sebagai candaan, melainkan dianggap melampaui batas hingga menyentuh wilayah dehumanisasi. Ia mencerminkan bagaimana media sosial kerap menjadi ruang subur bagi prasangka, generalisasi, dan kemarahan kolektif yang dibungkus humor gelap.
Namun, menariknya, respons paling kuat terhadap narasi semacam itu tidak selalu datang dalam bentuk debat panas atau laporan massal. Ada arus tandingan yang bergerak lebih senyap, tetapi justru berdampak luas: musik. Dalam beberapa tahun terakhir, musik berbahasa Jawa mengalami kebangkitan signifikan dan diterima lintas generasi, lintas daerah, bahkan lintas kelas sosial. Dari panggung konser hingga lini masa TikTok, lagu-lagu Jawa menjelma simbol kebanggaan baru—menggeser stigma menjadi apresiasi, dan kebencian menjadi harmoni.
Ujaran Kebencian dan Luka Identitas Kultural
Ujaran kebencian berbasis identitas tidak pernah berdiri sendiri. Ia lahir dari sejarah panjang relasi kuasa, kecemburuan sosial, dan narasi yang disederhanakan. Dalam konteks Indonesia, identitas etnis sering kali diseret ke dalam perdebatan politik dan ekonomi, lalu dipadatkan menjadi stereotip. Ketika frasa seperti “Jawa adalah hama” beredar, ia bukan sekadar kata-kata—melainkan simbol dari akumulasi kekecewaan dan prasangka.
Masalahnya, respons emosional yang berlebihan justru sering memperpanjang konflik. Alih-alih menyembuhkan luka, ia mempertebal garis pemisah. Di titik inilah budaya—khususnya musik—menawarkan pendekatan berbeda: menyentuh rasa, bukan memukul logika.
Kebangkitan Musik Jawa di Tengah Riuh Media Sosial
Popularitas musik Jawa hari ini bukan fenomena instan. Ia tumbuh dari fondasi panjang yang dibangun para seniman lintas generasi. Salah satu tonggak terpenting adalah karya almarhum Didi Kempot. Lagu-lagu seperti Suket Teki dan Tanjung Mas Ninggal Janji yang dirilis puluhan tahun lalu, menemukan kehidupan baru di era digital.
Julukan “The Godfather of Broken Heart” yang melekat pada Didi Kempot bukan sekadar gimmick. Ia menandai perubahan cara pandang generasi muda terhadap musik daerah. Lirik berbahasa Jawa yang lugas, jujur, dan dekat dengan pengalaman emosional membuat musiknya relevan bagi milenial dan Gen Z—bahkan bagi mereka yang tidak tumbuh dengan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu.
Media sosial mempercepat proses ini. Potongan lagu Jawa yang digunakan sebagai latar video TikTok atau Reels menjangkau jutaan penonton, melampaui batas geografis dan kultural. Musik Jawa tak lagi “daerah”; ia menjadi bahasa emosi universal.
Dari Stigma ke Apresiasi: Musik sebagai Narasi Tandingan
Di tengah narasi negatif yang merendahkan identitas tertentu, musik Jawa hadir sebagai narasi tandingan yang elegan. Ia tidak membantah dengan amarah, melainkan menunjukkan nilai melalui keindahan. Lirik-lirik tentang cinta, kehilangan, kesetiaan, dan kerinduan berbicara pada pengalaman manusia yang universal.
Dangdut Jawa dan campursari, misalnya, memadukan unsur tradisional dengan aransemen modern. Kendang, gamelan, dan suling berdialog dengan gitar listrik dan synthesizer. Hasilnya adalah musik yang akrab sekaligus segar—membuat pendengar dari latar belakang apa pun merasa “diundang”, bukan dikecualikan.
Ketika jutaan orang menyanyikan lagu Jawa bersama di konser atau di ruang digital, stigma kehilangan pijakan. Identitas yang semula diserang justru tampil sebagai sumber kekayaan budaya.
Mengapa Musik Lebih Efektif dari Debat?
Ada alasan mengapa musik sering kali lebih ampuh meredam kebencian dibandingkan argumen rasional. Musik bekerja pada ranah afektif—emosi dan empati. Ia melewati filter ideologi dan langsung menyentuh pengalaman personal. Dalam konteks ujaran kebencian, pendekatan ini krusial.
Alih-alih mengatakan “kamu salah”, musik berkata “dengarkan aku”. Ia membuka ruang dialog tanpa kata, menciptakan pertemuan batin yang sulit dicapai oleh debat di kolom komentar. Inilah yang membuat kebangkitan musik Jawa menjadi jawaban elegan: tanpa menyebut kebencian, ia meniadakannya.
Harmoni sebagai Identitas Baru
Transformasi dari “Jawa adalah hama” ke “Jawa adalah harmoni” bukan sekadar permainan kata. Ia mencerminkan pergeseran cara pandang. Harmoni bukan berarti meniadakan perbedaan, melainkan merangkainya menjadi keselarasan. Musik Jawa—dengan segala ragamnya—menjadi contoh konkret bagaimana identitas kultural dapat tampil inklusif dan membumi.
Di tengah dunia digital yang bising dan mudah tersulut, musik mengajarkan jeda. Ia mengingatkan bahwa kebudayaan bukan alat untuk menyerang, melainkan ruang untuk saling memahami. Ketika lagu-lagu Jawa dinyanyikan oleh mereka yang berasal dari berbagai latar belakang, pesan itu menjadi nyata.
Penutup: Musik sebagai Etika Sosial Baru
Ujaran kebencian mungkin akan terus muncul, berganti bentuk dan sasaran. Namun, respons yang berkelanjutan tidak selalu harus keras. Kebangkitan musik Jawa menunjukkan bahwa keindahan dapat menjadi bentuk perlawanan paling efektif. Ia tidak hanya meredam konflik sesaat, tetapi membangun fondasi empati jangka panjang.
Dari ruang digital hingga panggung konser, musik Jawa membuktikan dirinya sebagai jembatan. Ia mengubah stigma menjadi cerita, prasangka menjadi rasa, dan kebencian menjadi harmoni. Dalam konteks ini, musik bukan sekadar hiburan—ia adalah etika sosial baru yang relevan di era media sosial.
Baca Juga : 13 Lagu Jawa Penuh Pesona: Dangdut Koplo hingga Campursari
Cek Juga Artikel Dari Platform : capoeiravadiacao

