Di tengah gempuran konser musik pop, EDM, hingga festival internasional, dangdut koplo kembali menunjukkan taringnya sebagai hiburan rakyat yang tak tergantikan. Hal itu tercermin jelas dalam gelaran JomloFest 2025 yang sukses digelar di Lapangan Parkir Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, pada Minggu, 7 Desember 2025. Mengusung tema “Jogja Emang Koplo”, festival ini menjadi bukti nyata bahwa koplo bukan sekadar genre musik pinggiran, melainkan denyut utama hiburan lokal yang terus hidup dan berkembang.
Sejak sore hari, ribuan penonton mulai memadati area konser. Mereka datang dari berbagai latar belakang usia dan profesi, dengan satu tujuan yang sama: menikmati euforia koplo secara penuh. Dari muda hingga dewasa, dari mahasiswa hingga pekerja, semuanya larut dalam suasana yang cair, egaliter, dan penuh kegembiraan. Inilah ciri khas dangdut koplo—musik yang meruntuhkan sekat sosial dan menghadirkan ruang kebersamaan.
Panggung Koplo, Panggung Kolektif
JomloFest 2025 menghadirkan deretan musisi yang saat ini menjadi ikon dangdut koplo dan pop Jawa modern. Nama-nama seperti Denny Caknan, Guyon Waton, NDX AKA, Aftershine, OM Lorenza, Lavora, Wawes, hingga Vadesta tampil silih berganti, menyuguhkan warna musik yang beragam namun tetap berakar pada irama koplo.
Setiap penampilan disambut sorak sorai penonton. Lagu-lagu yang dibawakan bukan hanya dinikmati, tetapi dinyanyikan bersama. Inilah keunikan dangdut koplo: ia hidup dari partisipasi penontonnya. Penonton bukan sekadar audiens pasif, melainkan bagian dari pertunjukan itu sendiri. Joget, nyanyi bareng, hingga teriakan spontan menjadi elemen yang tak terpisahkan.
“100 Persen Koplo” sebagai Pernyataan Sikap
Penyelenggara JomloFest secara tegas menyebut acara ini sebagai festival “100 persen koplo”. Pernyataan ini bukan sekadar gimmick, melainkan sikap kultural. Di saat banyak festival mencoba menggabungkan berbagai genre demi menjangkau pasar luas, JomloFest justru memilih fokus dan konsisten pada satu identitas. Hasilnya terbukti: tiket ludes terjual lebih dari tiga minggu sebelum hari pelaksanaan, dengan total kehadiran lebih dari 16.000 orang, termasuk undangan dan tim acara.
Angka tersebut menunjukkan satu hal penting: dangdut koplo memiliki basis massa yang kuat dan loyal. Terutama di Yogyakarta dan wilayah Jawa Tengah–Jawa Timur, koplo telah menjadi bagian dari gaya hidup. Ia tidak lagi dipandang sebagai musik kelas bawah, tetapi sebagai ekspresi budaya populer yang sah dan membanggakan.
Dampak Sosial dan Ekonomi Lokal
Keberhasilan JomloFest 2025 tidak hanya diukur dari ramainya penonton, tetapi juga dari dampak yang ditimbulkannya. Ribuan pengunjung berarti perputaran ekonomi yang besar bagi pelaku UMKM lokal, mulai dari pedagang makanan, minuman, hingga merchandise. Hotel, transportasi, dan sektor pendukung lainnya turut merasakan efek positif.
Lebih dari itu, JomloFest juga membawa misi sosial. Sebagian keuntungan dari penjualan tiket disalurkan untuk membantu korban bencana banjir di Aceh dan Sumatra. Langkah ini menunjukkan bahwa festival musik tidak harus berhenti pada hiburan semata, tetapi juga bisa menjadi medium solidaritas dan kepedulian. Dalam konteks ini, koplo tidak hanya menghibur, tetapi juga menggerakkan empati.
Koplo dan Identitas Generasi Muda
Menariknya, antusiasme terbesar justru datang dari generasi muda. Anak-anak muda yang tumbuh di era digital ternyata tidak meninggalkan musik lokal. Sebaliknya, mereka merangkul koplo dengan cara baru—melalui media sosial, remix, hingga kolaborasi lintas genre. JomloFest menjadi ruang temu antara tradisi dan modernitas, antara akar budaya dan ekspresi kekinian.
Fenomena ini mematahkan anggapan bahwa musik lokal akan kalah oleh arus globalisasi. Dangdut koplo justru beradaptasi dan menemukan bentuk barunya, tanpa kehilangan esensi. Ia tetap sederhana, jujur, dan dekat dengan keseharian masyarakat.
Menuju JomloFest sebagai Agenda Tahunan
Melihat respons publik yang luar biasa, penyelenggara berencana menjadikan JomloFest sebagai agenda tahunan. Bahkan, muncul wacana Road to JomloFest di beberapa kota pada 2026, sebelum kembali digelar dalam skala besar di Yogyakarta. Strategi ini berpotensi memperluas jejaring komunitas koplo sekaligus memperkuat ekosistem musik lokal di berbagai daerah.
Jika konsistensi ini dijaga, JomloFest bukan tidak mungkin menjadi salah satu festival musik lokal terbesar di Indonesia, sejajar dengan festival-festival arus utama lainnya. Bedanya, JomloFest berdiri dengan identitas yang jelas dan kuat: koplo sebagai tuan rumah di negerinya sendiri.
Penutup
JomloFest 2025 adalah perayaan. Bukan hanya perayaan musik, tetapi juga perayaan identitas, kebersamaan, dan keberlanjutan budaya lokal. Ia membuktikan bahwa dangdut koplo masih—dan mungkin akan selalu—menjadi primadona hiburan rakyat. Di tengah perubahan zaman, koplo menemukan caranya sendiri untuk tetap relevan, dicintai, dan dirayakan.
Di Yogyakarta, pada malam penuh irama itu, ribuan orang telah memberi jawaban tegas: selama masih ada ruang untuk bergoyang dan bernyanyi bersama, dangdut koplo tidak akan pernah mati.
Baca juga : Melodi Mahdihin dan Upaya Menjaga Jati Diri Inhil
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : medianews

