Di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi musik populer modern, ada satu melodi tua yang perlahan meredup di tepian Sungai Indragiri. Melodi itu bernama Seni Musik Mahdihin, sebuah warisan budaya lisan masyarakat Melayu di Indragiri Hilir yang kini berada di persimpangan antara ingatan dan kepunahan. Mahdihin bukan sekadar hiburan tradisional, melainkan cermin jati diri, nilai hidup, dan cara orang Melayu Inhil membaca dunia.
Mahdihin hidup dari suara manusia. Ia adalah seni musik vokal yang diiringi alat-alat tradisional seperti gambus, marwas (gendang kecil), dan terkadang biola. Namun kekuatan utamanya bukan terletak pada instrumen, melainkan pada syair-syair yang dilantunkan. Syair Mahdihin sarat dengan pesan moral, nilai agama, kisah sejarah, nasihat kehidupan, hingga pujian terhadap alam dan Sang Pencipta. Dalam setiap bait, tersimpan pandangan hidup masyarakat Melayu yang santun, religius, dan seimbang dengan lingkungan.
Mahdihin sebagai Media Sosial Tradisional
Sebelum hadirnya media digital, Mahdihin berfungsi sebagai “media sosial” masyarakat. Ia menjadi sarana menyampaikan pesan, kritik halus, bahkan pendidikan moral tanpa harus menggurui. Dalam acara pernikahan, penyambutan tamu, atau perhelatan adat, Mahdihin berperan sebagai perekat sosial. Orang berkumpul, mendengarkan, tertawa, merenung, dan belajar bersama.
Keistimewaan Mahdihin juga terletak pada spontanitasnya. Banyak syair dilantunkan secara improvisatif, menyesuaikan konteks acara dan kondisi sosial yang sedang berlangsung. Di sinilah kecerdasan kultural para pelaku Mahdihin diuji: mereka bukan hanya musisi, tetapi juga penutur, pendidik, dan penjaga nilai.
Ancaman Kepunahan yang Nyata
Sayangnya, denting Mahdihin kini semakin jarang terdengar. Ancaman kepunahannya datang dari berbagai arah. Generasi muda Inhil tumbuh dalam lingkungan budaya global yang serba cepat dan visual. Musik pop, konten media sosial, dan budaya digital jauh lebih akrab di telinga mereka dibandingkan syair-syair Melayu klasik yang membutuhkan kesabaran untuk dipahami.
Selain itu, jumlah maestro Mahdihin yang benar-benar menguasai struktur syair, irama, dan filosofi di baliknya semakin menipis. Banyak dari mereka telah lanjut usia, sementara proses regenerasi tidak berjalan optimal. Tanpa murid yang serius belajar, pengetahuan itu terancam berhenti pada satu generasi.
Masalah lain adalah minimnya dokumentasi. Banyak repertoar Mahdihin hanya hidup dalam ingatan para pelakunya. Ketika mereka berpulang, syair dan lagu yang tidak pernah direkam berpotensi hilang selamanya. Di sisi lain, ruang pentas untuk Mahdihin juga semakin sempit, kalah oleh hiburan modern yang dianggap lebih “menjual”.
Strategi Pelestarian: Dari Lokal ke Digital
Pelestarian Seni Musik Mahdihin tidak bisa dilakukan secara sporadis. Ia membutuhkan strategi yang terencana, berkelanjutan, dan melibatkan banyak pihak.
Pertama, pendidikan dan regenerasi.
Mahdihin perlu dikenalkan sejak dini melalui muatan lokal di sekolah-sekolah. Tidak harus langsung dalam bentuk teori berat, tetapi melalui pengenalan syair, cerita di balik lagu, dan praktik sederhana. Sanggar seni di tingkat desa dapat menjadi ruang belajar informal, di mana maestro Mahdihin menurunkan ilmunya kepada generasi muda.
Pendekatan kreatif juga penting. Kolaborasi Mahdihin dengan musik modern—tanpa menghilangkan ruhnya—dapat menjadi jembatan agar anak muda merasa dekat. Bukan untuk mengubah Mahdihin, tetapi untuk membuatnya relevan.
Kedua, dokumentasi dan digitalisasi.
Perekaman audio-visual Mahdihin harus menjadi prioritas. Setiap lagu, syair, dan cerita di baliknya perlu didokumentasikan secara sistematis. Wawancara mendalam dengan para seniman senior akan memperkaya arsip budaya. Hasilnya dapat disimpan dalam perpustakaan digital yang mudah diakses publik, menjadikan Mahdihin abadi dalam bentuk data.
Ketiga, festival dan ruang ekspresi.
Pemerintah daerah dan komunitas budaya perlu menghadirkan Mahdihin secara rutin di ruang publik. Festival seni tradisional, agenda pariwisata, hingga acara resmi daerah dapat menjadi panggung bagi Mahdihin untuk kembali hidup. Ketika masyarakat sering mendengar dan melihatnya, rasa memiliki akan tumbuh dengan sendirinya.
Keempat, dukungan kebijakan dan ekonomi.
Pelestarian budaya membutuhkan dukungan nyata. Peraturan daerah yang melindungi kesenian tradisional, alokasi anggaran, serta insentif bagi seniman Mahdihin sangat diperlukan. Integrasi Mahdihin dengan sektor pariwisata budaya juga dapat membuka peluang ekonomi, sehingga pelestarian tidak hanya bernilai simbolik, tetapi juga berkelanjutan.
Kelima, penguatan komunitas dan narasi kebanggaan.
Mahdihin harus ditempatkan sebagai simbol kebanggaan orang Melayu Inhil. Kampanye melalui media lokal dan media sosial—yang dikelola oleh anak muda—dapat membangun citra bahwa melestarikan Mahdihin adalah tindakan berkelas dan bermakna. Ketika identitas lokal dipersepsikan positif, generasi muda akan lebih terdorong untuk terlibat.
Menjaga Suara Hati Melayu Inhil
Pada akhirnya, melestarikan Seni Musik Mahdihin bukan sekadar menjaga nada dan syair. Ia adalah upaya memelihara ingatan kolektif, kearifan lokal, dan jati diri masyarakat Melayu Indragiri Hilir. Mahdihin mengajarkan bahwa seni tidak selalu harus keras untuk bersuara; ia bisa lembut, puitis, dan tetap tajam dalam menyampaikan nilai.
Jika Mahdihin punah, yang hilang bukan hanya satu jenis musik, tetapi satu cara pandang terhadap kehidupan. Karena itu, tanggung jawab pelestarian tidak hanya berada di pundak seniman atau pemerintah, tetapi juga seluruh masyarakat. Dengan mendengar, mencatat, dan mewariskannya dengan cinta, Mahdihin dapat terus hidup sebagai nyanyian yang membimbing generasi masa depan mengenal siapa diri mereka sebenarnya.
Melodi itu masih ada. Tinggal apakah kita memilih untuk membiarkannya memudar, atau bersama-sama menjaganya agar tetap bergema di tepian Sungai Indragiri.
Baca Juga : Republik Fufufafa dan Dilema Slank di Era Politik Curiga
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : indosiar

