musicpromote.online Anugerah Musik Indonesia atau AMI Awards kembali menjadi sorotan publik karena menghadirkan deretan nama besar dalam daftar nominasi tahun ini. Banyak musisi yang lagunya viral di media sosial ikut bersaing di berbagai kategori. Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: Seberapa jauh AMI Awards menjadikan musik viral sebagai acuan dalam menetapkan nominasi? Apakah musik yang mendominasi TikTok dan Instagram kini memengaruhi penilaian juri?
Untuk menjawab rasa penasaran tersebut, pihak penyelenggara memberikan penjelasan langsung. Melalui jumpa pers di kawasan Senayan, Ketua Yayasan AMI Awards, Candra Darusman, mengungkap bagaimana sebenarnya hubungan antara dunia media sosial dan proses kurasi penghargaan musik paling prestisius di Indonesia itu.
Musik Viral: Pengaruh Besar, Tapi Bukan Penentu Utama
Popularitas lagu di media sosial, terutama TikTok, memang memiliki dampak besar terhadap penyebaran karya musik saat ini. Banyak lagu yang awalnya tidak dikenal tiba-tiba naik daun karena digunakan dalam challenge atau konten kreatif. Fenomena viral seperti ini membuat musisi mendadak populer dan lagunya melejit dalam waktu singkat.
Namun, menurut Candra Darusman, viralitas bukanlah satu-satunya pertimbangan. Ia menegaskan bahwa AMI Awards tetap berpegang pada prinsip kualitas musik. Artinya, lagu viral hanya akan masuk radar jika memenuhi standar artistik, teknis, dan musikal yang ditentukan oleh komite penilai.
Dengan kata lain, viral di media sosial bisa membantu sebuah karya menjadi lebih terlihat, tetapi tidak otomatis membuatnya layak menang penghargaan musik. Popularitas hanya menjadi pintu awal, bukan tujuan akhir dalam proses kurasi.
Komite Penilai Tetap Mengutamakan Aspek Musikal
AMI Awards memiliki sistem penilaian berlapis yang melibatkan ratusan musisi dan praktisi musik profesional. Setiap kategori dinilai oleh orang-orang yang kompeten di bidangnya, mulai dari produser, arranger, pencipta lagu, sound engineer, hingga akademisi musik.
Mereka menilai bukan dari viral atau tidaknya lagu, tetapi dari:
- kualitas aransemen
- konsep musik
- teknik vokal atau permainan instrumen
- produksi audio
- orisinalitas karya
- kekuatan penulisan lirik
Aspek-aspek ini menjadi fondasi utama dalam penilaian. Candra Darusman menegaskan bahwa penghargaan musik tidak boleh kehilangan esensi artistiknya meski dunia terus bergerak menuju era keviralan.
Media sosial dianggap sekadar fenomena yang memberi konteks tambahan, bukan fondasi utama dalam penentuan pemenang.
Media Sosial Tetap Dianggap Sebagai Barometer Tren Musik
Meskipun bukan faktor penentu, AMI Awards tidak menutup mata terhadap peran besar media sosial dalam perkembangan industri musik modern. Platform seperti TikTok, Instagram Reels, YouTube Shorts, dan bahkan X (Twitter) kini menjadi sarana penting bagi musisi untuk memperkenalkan karyanya.
Viralitas lagu juga dapat menjadi indikator bahwa sebuah karya relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Hal ini membantu menilai bagaimana musik tersebut memengaruhi kultur populer. Dalam proses seleksi awal, komite kurasi kerap memasukkan lagu viral agar diperiksa lebih detail secara musikal.
Namun sekali lagi, masuk daftar pemeriksaan awal tidak berarti otomatis masuk nominasi. Lagu tersebut tetap harus melewati berbagai tahap verifikasi kualitas.
AMI Awards Menolak Sistem Penghargaan Berbasis Popularitas Semata
Dalam diskusi dengan media, Candra Darusman menegaskan bahwa AMI Awards bukan ajang popularitas. Jika penghargaan hanya diberikan berdasarkan suara publik atau tren media sosial, maka kualitas musik yang sebenarnya justru bisa terabaikan.
AMI Awards tetap mempertahankan identitasnya sebagai ajang penghargaan berbasis kredibilitas, bukan sekadar kompetisi viral. Hal inilah yang membedakannya dari berbagai ajang penghargaan berbasis voting pengguna.
Menurut Candra, tugas AMI adalah menjaga standar industri agar musisi tetap termotivasi menghasilkan karya berkualitas, bukan hanya mengejar viral.
Viral Bisa Jadi Efek, Bukan Sebab
Fenomena musik viral sering kali muncul karena lagu tersebut memang punya kualitas melodi, lirik, atau emosi yang kuat. Banyak lagu viral justru menjadi populer karena bagus, bukan sekadar karena challenge.
Dalam perspektif ini, viralitas adalah dampak dari kualitas, bukan alat ukur. AMI Awards mencoba melihat hubungan tersebut sebagai bukti bahwa musik berkualitas memang bisa menjangkau publik luas.
Jika sebuah lagu viral sekaligus punya standar produksi yang baik, barulah ia berpotensi kuat masuk nominasi.
Tantangan: Menjaga Relevansi di Era Digital
AMI Awards menyadari tantangan besar dalam menilai musik di era ketika tren berubah sangat cepat. Lagu bisa viral hari ini, lalu menghilang dalam hitungan minggu. Pergerakan industri musik kini bersifat dinamis dan kadang tidak terprediksi.
Untuk menjaga relevansi, AMI Awards mulai mengadopsi pendekatan baru, seperti:
- memperhatikan data digital tanpa menjadikannya acuan utama
- melihat bagaimana komunitas musik merespons lagu tertentu
- mengevaluasi dampak budaya dan kreativitas karya viral
Pendekatan ini menjaga keseimbangan antara standar tradisional dan perkembangan digital yang tak bisa diabaikan.
Kesimpulan: AMI Awards Merangkul Viral, Tapi Tetap Menjaga Kualitas
Musik viral memiliki peran besar dalam ekosistem musik modern, namun bukan satu-satunya penentu dalam proses nominasi AMI Awards. Komite penilai tetap fokus pada kualitas karya, sementara viralitas hanya menjadi elemen pendukung untuk melihat relevansi lagu dengan masyarakat.
Dengan cara ini, AMI Awards berusaha menempatkan diri sebagai penghargaan yang tetap menghormati kualitas musik, sambil tetap mengikuti perkembangan zaman.

Cek Juga Artikel Dari Platform mabar.online
